Hati-hati dengan Berita dari Orang Fasik

Sosial | Wednesday, March 7th, 2012
t-shirt anti islam

t-shirt anti islam

Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu“. (QS. Al Hujurat: 6).

Al Baghawy dalam tafsirnya mengatakan bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan Al Walid bin Uqbah bin Abi Muith yang diutus oleh Rasulullah saw kepada Bani Al-Musthaliq. Di masa jahiliyah Al Walid bermusuhan dengan Bani Musthaliq. Tatkala dia mendengar bahwa kaum bani Musthaliq akan menjumpainya sebagai sikap takzim terhadap perintah Rasulullah saw, syaitan justru membisikinya bahwa mereka akan membunuhnya.

Maka dia kembali kepada Rasulullah memberikan laporan bahwa Bani Musthalig menolak membayar zakat dan akan membunuhnya. Mendengar hal itu Rasulullah saw murka kepada mereka dan bertekad hendak memerangi mereka.

Kabar kembalinya Al Walid sampai kepada Bani Musthaliq. Mereka segera datang kepada Rasulullah saw. Lalu menyampaikan: Wahai Rasulullah saw kami sudah mendengar tentang utusanmu. Maka kami keluar untuk menyambutnya dan memuliakannya dan kami akan membayar kepadanya apa yang sudah kami terima sebagai hak Allah Azza wa Jalla. Lalu ternyata dia kembali. Kami khawatir kalau-kalau yang membuatnya kembali adalah perintahmu karena engkau murka kepada kami. Sungguh kami berlindung kepada Allah dari murka-Nya dan murka Rasul-Nya.

Rasulullah saw mencurigai mereka. Beliau mengutus sahabatnya Khalid bin Walid ra secara diam-diam ke perkampungan mereka dengan membawa pasukan. Beliau memerintahkan agar menyembunyikan kedatangannya. Beliau bersabda: Perhatikan, Jika engkau melihat adanya bukti keimanan mereka, maka ambillah zakat dari harta mereka. Jika engkau tidak melihat, maka gunakan untuk mereka apa yang digunakan terhadap orang-orang kafir.

Maka Khalid melaksanakan perintah itu. Khalid mendengar adzan sholat Maghrib dan Isya di perkampungan mereka. Maka Khalid mengambil zakat dari mereka. Khalid hanya melihat kebaikan dan ketaatan mereka. Lalu Khalid pulang ke Madinah menjumpai Rasulullah saw dan mengabarkan apa yang dia lihat.

Maka turunlah firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang seorang fasik (yakni Al Walid bin Uqbah) membawa kabar, maka telitilah terlebih dahulu supaya kalian tidak menimpakan pembunuhan atau peperangan kepada suatu kaum lantaran tidak tahu sehingga menyesali kesalahan yang kalian lakukan!

Allah SWT telah menggelari Al Walid bin Uqbah bin Abi Muith dalam ayat di atas sebagai seorang fasik lantaran telah membuat laporan palsu, kabar bohong, yang tidak sesuai dengan faktanya tentang Bani Musthaliq yang membuat Rasulullah saw murka dan hendak memeranginya.

Cap fasik itu tepat untuknya karena telah melakukan perbuatan dosa besar, yakni bohong, apalagi kabar bohongnya itu bisa membuat fitnah yang besar yakni peperangan. Dalam beberapa ayat Al Quran orang-orang kafir disebut sebagai orang fasik. Tentu ini juga merujuk kepada kebiasaan mereka membuat berita bohong atau berita bias yang menyudutkan umat lslam.

Sebagai contoh adalah gambaran yang sering diberikan media massa Barat terhadap Isiam dan umat Islam. Mereka sering menyebut bahwa Islam bukanlah agama atau paling tidak mereka sebut islam adalah agama yang berbahaya. Jihad mereka sebut teror dan mujahid mereka sebut teroris. Kasus pengeboman yang meruntuhkan gedung Federal di Oklahoma pada tahun 1997 mereka kabarkan sebagai perbuatan teroris yang buta dari Mesir yang bernama Oemar Abdurrahman.

Mereka blow up kasus itu sebagai kasus terorisme dan mereka membuat UU Anti Terorisme. Tetapi setelah diketahui bahwa pengebomannya adalah mantan anggota marinir AS yang bernama Timothy Mc Veigh. Lalu mereka memberitakan kasus tersebut sebagai kasus kriminal biasa. Kegemaran mereka membuat berita bohong, stigma, hipokrit, dan standar ganda yang intinya selalu kampanye hitam kepada Islam dan umat Islam membuat mereka layak disebut sebagai kaum fasik.

Kebiasaan pers Barat membuat berita bohong, stigmatis, hipokrit, dan standar ganda yang intinya selalu kampanye hitam kepada Islam dan umat Islam tampaknya menular kepada pers kita yang memang mayoritas dikuasai oleh orang-orang kafir.

Sebagai contoh adalah mereka memblow up seruan pembubaran FPI oleh segelintir orang liberal yang mengerahkan bencong, gadis bertato, dan pemuda berambut gimbal di bunderan HI beberapa waktu lalu dengan porsi yang over dosis.

Umat Islam harus memahami bahwa media massa sekuler yang mengidap islamophobia yang gemar membuat berita miring kepada umat Islam adalah media fasik yang umat Islam harus mengecek secara teliti kebenaran berita mereka.

Umat Islam jangan sampai menimpakan fitnah kepada saudaranya sendiri lantaran saudaranya telah dicap oleh media massa fasik sebagai pihak yang buruk, seperti organisasi anarkis, organisasi preman, preman berjubah, dan julukan-julukan negatif lainnya. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya sesama umat Islam bersaudara…” (QS. Al Hujurat 10).

 

Sumber: Buletin Jum’at Ad-Dakwah Edisi 164/Tahun III

Related Posts with Thumbnails



Related Articles

  • No Related Post

1 Comment »

  1. surah / surat : An-Nisaa Ayat : 83

    wa-idzaa jaa-ahum amrun mina al-amni awi alkhawfi adzaa’uu bihi walaw radduuhu ilaa alrrasuuli wa-ilaa ulii al-amri minhum la’alimahu alladziina yastanbithuunahu minhum walawlaa fadhlu allaahi ‘alaykum warahmatuhu laittaba’tumu alsysyaythaana illaa qaliilaan

    83. Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri [1] di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri) [2]. Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).

    [1] Ialah : tokoh-tokoh sahabat dan para cendekiawan di antara mereka.
    [2] Menurut mufassirin yang lain maksudnya ialah : kalau suatu berita tentang keamanan dan ketakutan itu disampaikan kepada Rasul dan Ulil Amri, tentulah Rasul dan Ulil Amri yang ahli dapat menetapkan kesimpulan (istimbat) dari berita itu.

    SEBAB TURUNNYA AYAT:
    Muslim meriwayatkan dari Umar bin Khattab, katanya, “Tatkala Nabi saw. mengucilkan para istrinya, aku masuk ke dalam mesjid, tiba-tiba kulihat orang-orang (para sahabat) melempar-lempar batu kerikil ke tanah seraya mengatakan Rasulullah telah menalak istri-istrinya, lalu aku berdiri tegak di pintu mesjid dan kuserukan dengan sekuat suaraku bahwa Nabi tidak menalak istri-istrinya, kemudian turunlah ayat ini, ‘Dan jika datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan dan ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Padahal seandainya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka tentulah orang-orang yang ingin menyelidiki duduk perkaranya akan dapat mengetahuinya dari mereka.’ (Q.S. An-Nisa 83). Maka saya termasuk di antara orang-orang yang menyelidiki duduk perkaranya itu.”

    Ibnu Katsir menafsirkan:

    “(ayat tersebut) Adalah PENGINGKARAN terhadap orang yang BERSEGERA dalam berbagai urusan SEBELUM MEMASTIKAN KEBENARAN, lalu ia mengabarkannya, menyiarkannya, dan menyebarluaskannya, padahal terkadang perkara itu TIDAK BENAR.”

    Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda,

    ”Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.”
    (HR. Muslim).

    Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. 49:6)

    Maksudnya : Jangannlah kalian terima beritanya, sampai kalian teliti dan membuktikan kebenarannya.

    Pada ayat ini Allah mengajarkan kepada kita bahwa hukum asal orang fasik adalah dusta, akan tetapi ada kemungkinan dia jujur, maka dari itu berita yang dibawanya tidak langsung diterima atau ditolak, kecuali setelah dilakukan penelitian atas kebenaran berita tersebut. Jika telah jelas kejujurannya melalui bukti dan keterangan yang ada, maka beritanya diterima, akan tetapi jika sebaliknya, maka beritanya di tolak.

    Kemudian Allah menjelaskan hikmah dari perintahNya untuk melakukan pengecekan kebenaran suatu berita, serta hikmah laranganNya dari mengekor kepada isu dan kabar burung seraya berfirman.

    “Artinya : Kalian menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya” [Al-Hujurat : 6]

    Maksudnya : Kemudian ternyata kalian yang salah dan kaum tersebut tidak bersalah apa-apa.

    “Artinya : Sehingga kalian akan menyesali perbuatan kalian”

    [Al-Hujurat : 6]

    Terlebih , apabila perbuatan kalian tersebut menyebabkan punggung-punggung kalian dicambuk, karena mungkin tuduhan kalian itu menyebabkan hukuman tertentu, seperti tuduhan zina dan sebagainya. (Maka,) Betapa perlunya kaum muslimin semuanya kepada ayat ini, mereka MEMBACANYA, MERENUNGINYA dan BERAKHLAQ DENGANNYA.

    - (Lihatlah) Berapa banyak tragedi terjadi karena sebuah berita bohong yang disebarkan oleh seorang fasik lagi membuat onar?!

    - Betapa banyak darah yang ditumpahkan, nyawa berterbangan, harta benda dirampas, kehormatan dicabik-cabik, disebabkan oleh sebuah berita bohong yang sama sekali tidak ada buktinya!?

    (Ketahuilah!!) Semua itu digulirkan oleh musuh-musuh Islam dan kaum muslimin untuk memusnahkan persatuan mereka, mencabik-cabik kekuatan mereka, serta menghembuskan permusuhan dan kebencian diantara mereka!

    - Betapa banyak dua orang yang bersaudara dipisahkan oleh berita-berita bohong?!

    - Berapa banyak pasangan suami-istri dipisahkan oleh berita-berita dusta?!

    - Dan berapa banyak pula peperangan antara suku dan umat karena berita-berita palsu?!

    Allah Yang Maha Halus dan Mengetahui memberi kaidah syariat untuk umat ini, agar masyarakat ini tidak dirobek-robek, tidak dipecah belah dan api fitnah tidak berkobar didalamnya, yang apabila telah berkobar tidak akan bisa dipadamkan.

    Syaikh Dr Abdul Azim Badawi melanjutkan:

    Sungguh, di antara perkara yang sangat disayangkan adalah, bahwa tidak satupun masyarakat kaum muslimin bebas dari kaum munafiq dan pendengki, mereka adalah orang-orang yang tidak akan pernah merasa tenang, jika melihat masyarakat muslimin saling berkasih sayang, bersaudara serta merasa sebagai satu kesatuan, sehingga apabila seorang yang biasa dari mereka, maka yang memiliki kedudukan pun ikut mengeluh.

    Wajib bagi kaum muslimin untuk mempertajam kewaspadaan mereka dan berhati-hati terhadap musuh mereka, serta hendaknya kaum muslimin senantiasa mengingat, bahwa musuh-musuh mereka selalu begadang untuk menyusun rencana dan makar terhadap kaum muslimin. Maka dari itu kaum muslimin harus senantiasa waspada sehingga bisa mengetahui darimana munculnya permusuhan dan bagaimana kebencian di antara mereka dikobarkan!!

    Sesungguhnya, keberadaan orang-orang munafik di dalam masyarakat Islam merupakan bahaya laten yang besar, akan tetapi lebih berbahaya dari itu adalah adanya orang-orang beriman yang senantiasa menerima dikte dari kaum munafik, mereka juga MAU MENDENGAR GOSIP-GOSIP KAUM MUNAFIQ, TANPA MENGHIRAUKAN DAMPAKNYA TERHADAP KAUM MUSLIMIN.

    Al-Qur’an telah mencatat untuk kita sebagian bencana yang menimpa kaum muslimin, akibat MENGEKORNYA SEBAGIAN KAUM MUSLIMIN DIBELAKANG KAUM MUNAFIQIN (dan) PARA PENDENGKI, sehingga kita bisa memetik hikmah dari pengalaman orang-orang sebelum kita.

    Jika berkenan, maka bacalah surat An-Nuur, kemudian renungilah beberapa ayat mulia yang Allah firmankan untuk mengumumkan kesucian Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha dari tuduhan kaum munafik, dan ternyata beberapa orang yang benar-benar beriman ikut-ikutan menuduh tanpa bukti.

    Comment by Bang Uddin — 27 April 2013 @ 2:23 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment