Polemik Makna Syawal

Ibadah | Friday, September 23rd, 2011
grebek syawal

grebek syawal

Dalam kalender Hijriyah, bulan yang mengiringi Ramadhan dinamai Syawal, bulan ini adalah merupakan bulan yang kesepuluh. Banyak orang memaknai Syawal sebagai bulan peningkatan, benarkah asumsi tersebut?… mengenai hal ini terdapat pro kontra yang menyebar di masyarakat Indonesia, untuk mengetahui lebih lanjut mari kita simak paparan di bawah ini.

Kelompok pertama menyebutkan bahwa Syawal adalah bulan peningkatan, mereka berdalil dengan makna dari Syawal itu sendiri yaitu irtifa’, naik dan meningkat.

Kemudian ada dua alasan yang lainnya adalah: pertama, meningginya derajat kaum Muslimin setelah mereka ikhlas dalam menunaikan shaum Ramadhan dan mendapatkan maghfiroh ampunan dari Allah, sebagaimana sabda Nabi:

Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan tulus karena Allah, maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)

Kedua, karena secara moral dan spiritual kaum Muslim harus mempertahankan dan meningkatkan nilai-nilai amaliyah Ramadhan pada bulan ini dan bulan-bulan berikutnya hingga datang Ramadhan tahun depan.

Dalam perspektif ini, Syawal justru bermakna bulan peningkatan ibadah dan amal solih sebagai kelanjutan logis dari pendidikan moral dan spiritual yang dilakukan selama Ramadhan.

Adapun kelompok kedua, mereka mengatakan Syawal bukanlah bulan peningkatan, mereka berdalil dengan makna Syawal yang dikemukakan oleh Ibnul ‘Allan asy-Syafii al-Makki dalam kitabnya Dalil al Falihin li Thuruq Riyadh al-Shalihin-Syarh Riyadh al Sholihin-, jilid 4 hal 63, terbitan Darul Fikr Beirut:

“Penamaan bulan Syawal itu diambil dari kalimat Syalat al-Ibil yang maknanya onta itu mengangkat atau menegakkan ekornya. Syawal dimaknai demikian karena dulu orang-orang Arab menggantungkan alat-alat perang karena sudah dekat dengan bulan-bulan haram (yang merupakan bulan terlarang perang di masa jahiliyyah.”

Jadi penamaan Syawal bukan karena bulan ini adalah bulan peningkatan amal, namun disebut Syawal karena di bulan ini orang-orang Arab mengangkat atau meninggikan alat-alat perang yang mereka miliki atau dengan bahasa lain gencatan senjata.

Mereka menggantungkan pedang, tombak dan lainnya karena dikhawatirkan akan terjadinya peperangan antar sesama mereka yang tentunya hal itu diharamkan mengingat bulan Syawal merupakan salah satu bulan dari bulan-bulan yang diharamkan di dalamnya untuk berperang. Jika mereka masing-masing menenteng pedang dan senjata yang lainnya di bulan Syawal sangat dimungkinkan mereka akan melanggar larangan berperang di bulan tersebut.

Inilah dua kubu yang saling berseberangan dalam memahami makna Syawal. Yang lebih penting dari itu perbedaan pemahaman tentang Syawal akan berimbas kepada rutinitas ibadah yang dilakukan selama Ramadhan.

Kelompok pertama tentu akan mengatakan “Ramadhan telah lewat amal ibadah dan pahala yang Allah berikan tidak akan dilipat gandakan lagi, jadi tidak perlu berlebihan dalam ibadah layaknya bulan Ramadhan”.

Sedang kelompok kedua akan mengatakan sebaliknya “Syawal adalah bulan peningkatan ibadah setelah satu bulan digembleng dalam ketakwaan, bulan ini adalah bulan bukti keimanan dan ketakwaan kita bertambah dari bulan sebelum Ramadhan, maka dari itu kita harus meningkatkan ibadah kita dibulan ini”.

Terlepas dari itu semua, ibadah yang kita latih selama satu bulan yang pelatihnya langsung dari Allah, sebenamya aplikasinya pada 11 bulan ke depan, bukan hanya Syawal saja. Ibarat seseorang atau sekelompok orang mengikuti pelatihan yang berlangsung selama satu bulan maka, diharapkan para peserta dapat memperaktikan hasil pelatihan tersebut yang telah dilaksanakannnya.

Nah, sebagai ummat Islam yang telah menyelesaikan shaum dan berbagai ibadah lainnya di bulan Ramadhan karena Allah semata bukan yang lainnya. Mari lestarikan amal salih tersebut dan harus bisa ditambah jangan sampai berkurang apalagi hilang.

Prinsip kita sebagai Muslim yang ikhlas adalah: tak peduli apakah bulan Ramadhan atau bukan semua aktifitas ibadah tetap dilakukan, hanya saja mungkin di bulan Ramadhan ada tambahan waktu mengingat di bulan ini semua amal ibadah Allah lipat gandakan, sebagaimana sabda Nabi:

Allah berfirman: “Setiap amal perbuatan anak Adam yamj berupa kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya dengan sepuluh kali sehingga tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang afcan memberikan balasannya” (HR. Muslim)

Ketika masa-masa pelatihan usai, kita buktikan akan peningkatan keimanan dan keislaman kita dengan menjaga kesucian dan keluhuran diri. Iman dan takwa yang diraih pada buian Ramadhan dipelihara hingga bertemu dengan bulan Ramadhan berikutnya jangan sampai menyusut, segala amal perbuatan yang tidak ada gunanya atau bahkan melalaikan dibuang jauh-jauh, terlebih yang haram terbersit dalam hati saja tidak apalagi dilirik. Tentunya, ini semua dilakukan demi meraih bukti peningkatan keislaman kita, sebagaimana sabda Nabi:

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah pernah bersabda: “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (HR. at-Tirmidzi dan lainnya)

Ketika kontinyu dalam ibadah dan amal solih sekalipun diluar Romadhon, maka indikasi istiqomah pun ada dalam diri kita. Sedang istiqomah itu sendiri adalah salah satu alamat meningkatnya derajat seorang Muslim Mu’min.

Terakhir, semoga tulisan ini bisa merubah beberapa paradigma: pertama, paradigma lama tentang Ramadhan yang menyebar di masyarakat. Ibadah Ramadhan jangan diartikan sebagai bulan ketakwaan saja tanpa ada bukti yang jelas setelah berakhirnya bulan tersebut.

Kedua dengan merubah paradigma tersebut akan berpengaruh terhadap kontinuitas aktifitas amal solih yang dilakukan diluar Ramadhan, ketiga hendaknya Ramadhan yang telah dilalui dijadikan ajang latihan menempa diri agar lebih bertakwa untuk menghadapi sebelas bulan berikutnya.

Demikianlah ulasan ringkas sekitar polemik Syawal, jangan kita melihat apa arti bulan tersebut tapi bagaimana kita menyikapi bulan tersebut dan bulan-bulan sesudahnya setelah satu bulan penuh kita berada dalam karantina ketakwaan. Mudah-mudahan kita bisa mengambil ibroh dari ini semua dengan tetap istiqomah dalam ketakwaan kepada Allah kapan saja dan dimana saja.

Sumber: Buletin Dakwah Hasmi E.33 – 16 September 2011

Related Posts with Thumbnails



Related Articles


1 Comment »

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Unduk…

    Hadir untuk menyapa bagi terakhir kalinya sebelum mengundur diri dari keindahan persahabatan di maya. Saya sangat menghargai segala sapaan dan silaturahmi selama kita bersama.

    Kita hanya bertemu lewat catatan di poskad kenangan. Hanya memandang kaburan wajah di potret khayalan. Hanya mengetik huruf-huruf di tinta minda. Maafkan saya lahir dan batin jika…. pada tutur kata yang sesekali mencalar hati dalam penulisan dan pendapat diberi.

    Semoga Allah selalu memberkati persahabatan yang terjalin baik ini. Sebuah KENANGAN TERINDAH akan menyusul dalam diari kehidupan kita sebagai satu ikatan yang tidak bisa terlerai, andainya pertemuan itu bukan lagi milik kita. Doakan saya dalam kehidupan ini di dunia dan akhirat. Aamiin.

    Salam mesra penuh ukhuwwah berpanjangan hingga ke akhirat dari saya Siti Fatimah Ahmad, Sarikei, Sarawak.

    Comment by Siti Fatimah Ahmad — 6 October 2011 @ 10:29 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment