Harta dan Rahmat Ilahi

unduk | ekonomi,Khairu Ummah | Tuesday, September 9th, 2008

hartaSetiap muslim pasti ingin mendapatkan rahmat atau kasih sayang dari Allah swt. Untuk memperolehnya, banyak pintu yang bisa dimasuki, artinya banyak sebab yang bila kita lakukan maka kita akan memperoleh rahmat dari Allah swt, satu diantaranya adalah melalui harta yang kita cari dan kita manfaatkan.

Dalam satu hadits, Rasulullah saw bersabda: “Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan uang secara sederhana dan dapat menyisihkan kelebihan untuk  menjaga saat dia miskin dan membutuhkannya” (HR. Muslim dan Ahmad).

Dari hadits di atas, Allah swt akan memberikan rahmat kepada seseorang dalam kaitan dengan harta bila ia melakukan tiga perkara.

1.  Mencari Harta Dengan Cara Yang Baik.

Ketika manusia membutuhkan harta dan ia memang amat membutuh-kannya, maka Allah swt memerintahkan manusia untuk mencarinya bahkan kalau perlu sampai menjelajah ke berbagai penjuru bumi, hai ini dinya-takan dalam firman-Nya:

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (QS Al Mulk [67]: 15)

Agar manusia memperoleh rahmat Allah swt dalam mencari harta, maka ia harus mencarinya dengan cara yang baik atau halal bukan menghalalkan segala cara, apalagi sampai mencari legalitas hukum agar sesuatu yang sebenarnya tidak halal terkesan menjadi halal, padahal meskipun hakim sudah menyatakan halal baginya bila temyata dimata Allah swt hal itu tidak halal, tetaplah tidak halal, apalagi kita juga sebenamya tahu bahwa hal itu tidak halal, Allah swt berfirman: “Dan janganlah sebagian kamu
memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui
” (QS Al Baqarah [2]: 188).

Manakala kita sudah mencari harta dengan cara yang halal, maka Allah swt akan mencintai kita meskipun harta yang kita peroleh sedikit dan bersusah payah untuk mendapatkannya, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala senang melihat hamba-Nya lelah dalam mencari yang halal” (HR. Dailami dari Ali)

Diantara bentuk mendapatkan harta secara baik adalah dengan perdagang-an yang dilaksanakan dengan gara yang baik, Allah swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” (QS An Nisa [4]:29).

2. Membelanjakan Harta Secara Sederhana.

Meskipun harta sudah kita cari dengan susah payah yang berarti kita
punya hak memiliki sepenuhnya, dalam penggunaannya tetap harus kita lakukan penghematan meskipun untuk memenuhi kebutuhan pokok, karena itu, Islarn tidak membenarkan penggunaan harta secara boros, yakni menggunakan harta untuk sesuatu yang tidak benar menurut Allah swt dan Rasul-Nya, karena pemborosan merupakan kebiasaan syaitan yang sangat merugikan manusia, harta akan cepat habis sementara kebiasaan berlebihan menjadi sangat sulit untuk ditinggalkan meskipun dia tidak memiliki harta yang cukup, karenanya sikap ini harus dijauhi, Allah swt berfirman: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu sangat ingkar kepada Tuhannya” (QS Al Isra [17]:26-27).

Dalam Ensikiopedi Al-Qur’an dikutip pendapat Al Qasimi yang mendefinisikan at tabzir dengan membelanjakan harta untuk perbuatan yang haram atau makruh atau menyerahkan harta benda kepada yang tidak berhak menerima-nya. Sedangkan pendapat Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas yang dikutip adalah membelanjakan harta untuk sesuatu selain yang benar Karena itu, meskipun sedikit atau kecil jumlahnya, mengeluarkan harta untuk selalu yang bertentangan dengan ajaran Islam termasuk tabzir dan pelakunya adalah mubadzdzir yang berarti saudara syaitan.

Sederhana merupakan pola hidup yang dapat membawa kebahagiaan bagi manusia. Namun hal ini tidak hanya pada saat seseorang dalam keadaan kaya dan berkecukupan, tapi sederhana juga ditekankan kepada orang yang fakir. Saat kaya orang harus tetap sederhana sehingga tidak menghambur-hamburkan kekayaannya untuk sesuatu yang sia-sia dan bermewah-mewah, sedangkan diwaktu miskin, seseorang juga harus hidup sederhana agar apa yang dimiliki orang kaya yang memang dibutuhkan oieh si kaya tidak menjadi ambisi yang berlebihan oleh si miskin, si miskin tidak usah berpenampilan atau bergaya hidup seperti orang kaya kalau memang dia tidak mampu, sebagai contoh: kalau ukuran kekayaan adalah memiliki kendaraan pribadi, pada dasarnya hal itu boleh-boleh saja, hanya masalahnya kalau miskin seseorang tidak mampu membelinya, tapi karena ingin tampil seperti orang kaya, akhirnya ia harus menjarah milik orang lain atau dengan cara berutang kesana kemari dalam jumlah yang besar, padahal dia tidak sanggup membayarnya.

Akibat selanjutnya, utang akan membuat manusia tidak memperoleh kebahagiaan daiam hidupnya, mendapatkan gaji tidak membuat dia senang karena harus bayar utang, begitu juga mendapatkan keuntungan. Krisis moneter yang berkepanjangan di negeri kita adalah karena utang yang besar. Utang Negara berjumlah besar dan utang swasta lebih besar lagi. Itu sebabnya salah satu do’a yang selalu dipanjatkan Nabi Muhammad saw setiap harinya adalah: “Ya Allah lindungi aku dari lilitan utang dan dominasi orang lain“.

Dengan demikian, po!a hidup sederhana bukanlah didengungkan pada saat krisis ekonomi seperti sekarang ini dan bukan hanya untuk yang miskin, tapi juga untuk yang kaya, bukan hanya untuk yang kaya tapi juga untuk yang miskin.

3. Menabung Untuk Saat Dibutuhkan.

Idealnya uang yang kita miliki tidak kita habiskan seluruhnya untuk keperluan yang sebenarnya masih bisa ditekan pembiayaannya, karena itu, menabung merupakan sesuatu yang amat dianjurkan, apalagi ha! ini merupakan sesuatu yang amat menguntungkan bagi seseorang pada saat sulit atau pada saat amat memerlukan dana, baik untuk keperluan kesehatan, pendidikan maupun menanggulangi musibah.

Manakala kita memiliki tabungan dana, maka tingkat kekhawatiran bila mengalami kesulitan atau ada keperluan yang mendesak tidak terlaiu besar, namun bila tidak, akan terjadi kepanikan dan pilihan yang paling rnungkin pada saat seperti itu adalah berutang kepada orang lain. Yang lebih repot lagi adalah bila kita tidak biasa meminjam uang kepada orang lain atau orang menganggap kita berkecukupan karena selama ini gaya hidup kita memang tidak nampak sebagai orang susah dan ini menjadi tidak pantas lagi bila ternyata kita mau meminjam uang kepada orang yang selama ini lebih miskin dari kita.

Karena itu, Allah swt menyenangi orang yang mau menabung setelah kewajibannya dalam kaitan harta ditunaikan, baik kewajiban dengan sesama manusia maupun kepada Allah swt berupa zakat, infak dan sedekah. Orang yang menabung bukanlah orang yang menumpuk-numpuk harta, tapi menambung sebenarnya bagian dari manajemen terhadap harta yang kita miliki. Karenanya hal ini merupakan sesuatu yang amat penting untuk menghadapi kebutuhan dana pada saat-saat sulit atau saat kita amat membutuhkannya.

Semoga kita termasuk orang yang dirahmati oleh Allah swt, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak.

Related Posts with Thumbnails



Related Articles

  • No Related Post

1 Comment »

  1. [...] dan sebagian yang lain mendapatkannya dengan jumlah kecil. Namun, menurut ajaran Islam, keberkahan harta benda itu tidak ditentukan oleh besaran [...]

    Pingback by Kunci Keberkahan Harta | Mimbar Jum’at — 28 October 2009 @ 9:04 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment