Perjuangan/Usaha Mengalahkan Kemiskinan

Al-Huda,Sosial | Wednesday, September 3rd, 2008

NeracaPertanyaan :

Bahasan buletin Al Huda tentang kemiskinan adalah mengherankan bagi kami, karena berbeda dengan buletin dakwah lainnya yang membahas kemiskinan di kaitkan dengan zakat, sedekah dan infaq, buletin Al Huda membahasnya dalam perspektif kewajiban negara dan kewajiban pemerintah.

Oleh karena itu terkesankan buletin Al Huda menjadi LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang partisan, yaitu menjadi corong politik yang merongrong kebijakan pemerintah dan yang merongrong kewibawaan pemerintah.

Oleh karenya apakah tidak sebaiknya dalam membahas masalah kemiskinan buletin Al Huda membatasinya dalam kerangka ajaran agama saja, yaitu menghasung umat Islam untuk “panjang tangan” menunaikan zakat, berinfaq dan bersedekah (ZIS). Karena dengan zakat, infaq dan sedekah itu mengatasi kemiskinan menjadi lebih konkrit dan langsung dirasakan oleh rakyat (umat). Kalau mau lebih jauh lagi ada baiknya buletin Al Huda mendorong tumbuhnya “baitul mal wat tamwil” (BMT) sebagai lembaga keuangan mikro umat Islam yang berbasiskan masjid dan mushola.

Cobalah ustadz tengok beberapa BMT yang sekarang ini berfungsi dengan baik sebagai pendukung kemajuan ekonomi umat Islam. Sayangnya banyak pengurus masjid dan pengurus mushola belum megetahui pentingnya peranan BMT, bahkan yang menyedihkan banyak pengurus masjid dan pengurus mushola yang tidak menyetujui berdirinya BMT di masjid dan di mushola yang bersangkutan. Tetap saja hanya terpaku kepada kegiatan kepanitiaan zakat menjelang hari raya Irdul Fitri dan kepanitiaan korban menjelang hari raya ledul Adha. Padahal umat islam yang harus disantuni itu bukan terbatas pada hari-hari disekitar dua hari raya itu, melainkan sepanjang tahun. Dari hari kehari.

Bila di masjid dan mushola itu ada BMT, maka ada institusi masjid dan mushola yang megurus ZIS dan pemberdayaan umat sepanjang tahun. Disamping memberikan bantuan kepada masyarakat (khususnya umat Islam yang miskin), BMT memberi kesempatan pula bagi penyediaan lapangan kerja dan tumbuhnya tenaga-tenaga muda yang profesional dalarh mengelola lembaga keuangan mikro.

Kekuatan lembaga keuangan mikro ini janganlah dipandang remeh dan sebelah mata, pihak Katholik dan Protestan telah melakukannya dalam badan usaha yang bernama “credit union” yang sekarang omsetnya di atas lima milyar rupiah sehari dengan melibatkan keanggautan jutaan orang. Dimana sebagian besar anggotanya adalah umat Islam dipedesaan. Lembaga “kredit union” yang dikerjakan oleh kalangan Katholik dan Protestan itu adalah sama persis dengan konsep BMT yang dikembangkan pemikir ekonomi syari’ah. Oleh karena itu berilah dukungan kepada BMT. Dan tolong yakinkan pengurus masjid dan pengurus mushola, agar disetiap masjid dan mushola di dirikan BMT. Kiranya bulan Ramadhan mendatang ini menjadi momentum bagi pengurus masjid dan pengurus mushola untuk mendirikan BMT di masjid dan di moshola yang diurusnya.

Jawaban :

Kami setuju 100% dengan usulan saudara penanya agar di seluruh masjid dan mushola didirikan “baitul mal wat tamwil” (BMT) sebagai lembaga keuangan mikro yang mengurus ZIS dan pemberdayaan ekonomi masyarakat luas (khususnya umat Islam). Juga, kami setuju bulan ramadhan mendatang ini dijadikan momentum sosialisasi secara besar-besaran untuk menyebar luaskan perlunya didirikan BMT. Kiranya pada saat bulan Ramadhan ini dapat di berikan pelatihan kepada pengurus masjid dan pengurus mushola tentang bagaimana mendirikan dan mengurus /mengelola BMT. Juga disiarkan brosur secara luas agar umat Islam memahami dan mendukung pendirian BMT di masjid dan di mushola dekat rumahnya. Juga di masjid dan mushola perkantoran.

Hanya saja perjuangan/usaha mengalahkan kemiskinan hendaklah dilakukan secara paripurna di seluruh sektor dan lini. Tidak hanya dalam skala pembentukan lembaga keuangan mikro. Karena kalau hanya melalui lembaga keuangan mikro BMT, sungguh daya capaiannya adalah terbatas. Melainkan diperlukan juga kondisi kebijakan ekonomi pemerintah yang langsung memerangi kemiskinan sampai keakar-akarnya.

Ingat, kemiskinan rakyat Indonesia adalah kemiskinan struktural. Kemiskinan yang disebabkan oleh salahnya politik ekonomi yang diterapkan pemerintah. Obat dari keadaan yang demikian adalah perubahan politik ekonomi pemerintah. Tidak hanya sekadar berdirinya lembaga keuangan mikro.

Orang miskin Indonesia saat ini sangat banyak. Menurut pemerintah yang sangat miskin ada sebanyak 19,1 juta keluarga. Kalau satu keluarga terdiri atas 3 orang, maka orang yang sangat miskin berjumlah 57,3 juta orang. Berdasarkan kriteria pemerintah keluarga yang sangat miskin itu adalah mereka yang berpenghasilan paling tinggi hanya “satu dolar” sehari. Sedangkan menurut UNDP pada tahun 2005 orang miskin Indonesia berjumlah 109 juta orang. Karena UNDP mengkategorikan orang yang sangat miskin itu mereka yang seharinya berpendapatan “dua dolar” sehari. Kalau buruh Indonesia yang sekarang ini “UMP” (upah minimum propinsi) untuk buruh Jakarta sebesar 972 ribu rupiah (3,5 dolar sehari) digolongkan pula sebagai orang miskin, mungkin 140 juta orang Indonesia adalah orang miskin.

Ada dua masalah besar ekonomi Indonesia hari ini :

  1. Pengangguran.
  2. Kemiskinan.

Untuk mengatasi kedua masalah besar itu, perlu dilancarkan 3 program utama :

  1. Meningkatkan pendapatan rakyat. khususnya meningkatkan pendapatan petani dan nelayan.
  2. Menciptakan lapangan kerja, sedikitnya menciptakan 15 juta lapangan kerja dalam setahun.
  3. Memberikan jaminan sosial kepada orang terlantar.

Meningkatkan pendapatan petani dan nelayan adalah dengan cara membeli produksi pertanian dan perikanan disaat panen dengan harga sebelum panen. Menciptakan lapangan kerja disektor riel dan perdagangan, khususnya disektor pertanian dan perikanan melalui investasi oleh negara melalui APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Semuanya itu bersangkutan dengan politik ekonomi pemerintah.

Ada benarnya perjuangan mengalahkan kemiskinan yang diajukan oleh Al, Huda adalah perjuangan politik. Tapi bukan untuk merongrong pemerintah, melainkan untuk mendukung pemerintah agar dicintai oleh rakyat.  Dan rakyat segera menikmati kemakmuran.

Sumber : Buletin Dakwah Al-Huda No. 1137 Tahun ke 23  -  29 Agustus 2008

Related Posts with Thumbnails



Related Articles

  • No Related Post

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment