Menukar Nikmat

Mimbar Jum'at | Saturday, August 23rd, 2008

Kata nikmat berasal dari bahasa Arab yaitu ni’matun, dalam bentuk kata jama’ (plural) ni’amun atau ni’maatun yang artinya segala suatu kebaikan yang diberikan Allah kepada manusia baik berupa harta atau bentuk lainnya.

Nikmat selalu diidentikkan dengan karunia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan karunia adalah pemberian atau anugerah dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah. Nikmat atau karunia diberikan Allah SWT kepada manusia adalah dalam rangka membangun ketaatan kepada-Nya. Oleh karena nikmat datangnya dari Allah SWT, maka manusia sebagai penerima nikmat diperintah untuk mensyukurinya.

Allah berfirman, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (QS. Ibrahim [14]: 7)

Fungsi syukur adalah mendorong agar nikmat senantiasa meningkat pada diri manusia yang dari hari kehari meningkat pula ketaatannya kepada Allah SWT. Berbagai bentuk nikmat diberikan Allah SWT kepada manusia, ada yang dengan cara menitipkannya kepada bumi seperti, minyak, emas, tembaga, dan lain sebagainya yang semuanya itu diberikan kepada manusia untuk dapat mengolahnya, yang pada akhirnya untuk mengolah karunia itu manusia pun mengembangkan pengetahuan.

Agar manusia tidak menyimpang dari mengolah nikmat yang diberikan Allah, maka manusia diperintahkan agar senantiasa berdo’a, “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri“. (QS.Al-Ahqaaf[46]:15).

Merujuk kepada firman Allah SWT di atas, tidak dibenarkan adanya penyimpangan dalam mengelola nikmat yang diberikan Allah, baik dalam bentuk nikmat yang diberikan secara langsung ataupun yang dititipkan melalui sarana yang lain. Jalinan kerjasama dalam mengelola karunia Allah adalah jalinan membangun ketaatan dan kesejahteraan. Bila jalinan kerjasama itu terdapat kebohongan, kemunafikan, dan kezaliman, maka hal itu telah membuka pintu pengkhianatan kepada nikmat yang diberikan Allah.

Bila pengingkaran terhadap nikmat atau karunia terus menerus berkesinambungan maka nikmat tersebut suatu ketika bisa berubah menjadi laknat. Laknat adalah awal munculnya malapetaka bagi kehidupan. Bila nikmat berganti laknat maka semakin terbuka peluang kemurkaan Allah. Bila murka Allah telah tiba maka azab pun semakin dekat.

Laknat

Laknat berasal dari bahasa Arab yaitu la’ana-yal’anu-la’nan, berarti dijauhkan Allah dari segala bentuk kebaikan. Bila kebaikan telah dicabut Allah, maka yang tersisa adalah kejahatan, maka yang ada hanyalah kemungkaran dan kemaksiatan. Manakala sampai ketitik nadir kezaliman maka manusia akan diazab sesuai dengan kemungkaran yang dilakukannya.

Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan“. (QS. An-Nisa’ [4]: 14).

Nikmat yang terdapat di darat, laut, di rumah tangga atau di tempat kerja bukanlah pemberian secara cuma-cuma dari Allah SWT. Nikmat yang terhampar luas bisa membuat manusia tersenyum tetapi bisa juga membuat manusia menitikkan air mata. Banyak orang sukses dikala sedikit mendapat nikmat Allah dan menjadi durhaka ketika berhasil meraup karunia Allah.

Manusia selalu mengukur nikmat Allah dalam bentuk materi dengan melupakan nikmat dalam bentuk yang lain. Sebahagian manusia baru menyadari kebesaran nikmat Allah dikala cobaan ditimpakan kepadanya. Nikmat sehat baru terasa disaat sakit, nikmat kaya baru terasa diwaktu miskin, nikmat hujan baru terasa saat musim kemarau dan sebaliknya.

Ingkar

Untuk mengukur suatu karunia atau nikmat disyukuri atau diingkari maka rujukannya adalah ketaatan kepada Allah SWT. Apapun yang dikelola di alam ini adalah dalam rangka mem-bangun dan menciptakan kemuliaan manusia di hadapan Allah SWT. Karunia yang ada di perut bumi, di dasar lautan dan yang berhamparan di muka bumi, tidak dibenarkan dikelola dengan zalim. Kerjasama yang diciptakan oleh para pengelola bangsa ini dalam mengeksplorasi kekayaan perut bumi selayaknya adalah dalam rangka membangun bangsa ini untuk taat kepada Allah.

Akhlak yang dijunjung adalah akhlak yang diajarkan oleh Rasul-Nya. Bila semua kemaslahatan hidup dibangun dalam tatanan takwa, itulah jaminan keselamatan hidup. Tetapi bila kemaslahatan hidup dibangun berlandaskan keserakahan dan nafsu, berarti manusia telah menukar nikmat dengan laknat.

Sumber : Buletin Mimbar Jum’at No. 33 Th. XXII  -  15 Agustus 2008

Related Posts with Thumbnails



Related Articles

  • No Related Post

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment